Siapa Yang Lebih Cerewet? Perempuan Atau Laki-laki?
July 8th, 2007 by amoteYa, siapa sih yang lebih cerewet? Perempuan apa laki-laki? Untuk gue, cerewet kayanya bersifat situasional. Ada situasi-situasi tertentu yang emang memancing mulut gue untuk merepet tanpa henti. Gue bisa aja jadi super duper cerewet cerita ina ini ina itu, di saat lagi happy n ada kejadian menarik yang gue temuin di jalanan, misalnya. Kalo udah kaya gitu tuh, bisa aja dengan sadisnya mulut gue komat-kamit bercerita sambil ketawa-ketiwi di depan orang yang lagi capek or sebenernya mungkin lagi sedih. Eh, tapi itu termasuk cerewet nggak ya? He-he-he.
Yang jelas sih selama ini kata cerewet lebih banyak diidentikkan dengan cewek. Jarang banget ada laki-laki dibilang cerewet. Kebalikannya ama perempuan yang sering dibilang mulutnya ada dua atau bahkan lebih. Cuma dua orang yang ngobrol, suasananya udah kaya ada 4 orang yang lagi ngobrol. Beberapa penelitian juga bilang kalo bagian otak perempuan yang mengatur fungsi bicara emang jauh lebih aktif dibanding otak laki-laki. So, no wonder, kalo perempuan dibilang lebih banyak ngomong dibanding laki-laki.
Pertanyaan soal siapa yang lebih cerewet tadi membuat gue jadi keinget sama seorang temen gue di jaman SMP yang suka dijulukin cungur karena cerewetnya bener-bener nggak ada matinya, dan berbanding lurus pula dengan desibel suara dia yang nyaris selalu berbicara dengan suara gigi tiga itu. :-D. Apakah dia seorang perempuan? Bukan, saudara-saudara! Dia itu tulen cowok-wok-wok-wok. Gue sendiri sering wondering kok ya ada cowok cerewet gitu, karena buat gue sih cukup cewek aja dah yang cerewet.
Nah, baru-baru ini gue nemuin jawaban dari pertanyaan soal siapa yang lebih cerewet, apakah emang bener perempuan ataukah laki-laki sama aja banyak ngomongnya dibanding perempuan? Iya, penelitian yang kemarin gue baca di koran Kompas ternyata menunjukkan nggak ada bedanya kadar kecerewetan laki-laki dan perempuan. Kata penelitian yang digarap sama para peneliti dari University of Arizona, Amerika Serikat itu, nggak ada perbedaan signifikan antara perempuan dan laki-laki dalam hal kecerewetan mereka. Paling nggak, itu terbukti dari penelitian terhadap 396 mahasiswa yang dipasangin mikrofon selama 2-10 hari untuk ngambil contoh percakapan mereka. Dari situ ketahuan kalo perempuan menggunakan 16.215 kata dalam sehari, sedangkan laki-laki make 15.669 kata, alias cuma beda 546 kata aja. Selisih itu sendiri secara statistik nggak signifikan. Malah, di satu studi yang mereka lakukan di tempat kerja, justru ketahuan kalo laki-laki lebih banyak omong dibandingkan perempuan. Means, tidak benar ya, sekali lagi saya ulangi: tidak benar perempuan lebih banyak ngomong (baca: cerewet) dibandingin para lelaki. Horeeee!!!
Tapi, gue pikir-pikir lagi, terlepas dari perempuan dan laki-laki sama-sama banyak omongnya, sebenernya sih yang jauh lebih penting adalah isi omongan itu kali ya, berisi apa nggak? Kalo ternyata 16.215 kata dalam sehari itu lebih penuh dengan makna dan bisa kasih pencerahan dibanding 8.000 kata yang kebalikannya, lebih baik yang banyak ngomong bukan? Jadi, intinya mungkin adalah gimana caranya memelihara mulut kita untuk sebisa mungkin berbicara yang baik-baik saja dan tahu kapan harus diam di saat kita tidak bisa melakukan itu. Tapi, jangan lalu berubah jadi males ngomong karena takut dibilang cerewet kali ya! Toh, julukan cerewet itu kan biasanya lebih ditujukan pada orang yang banyak omong tapi annoying. Lagian, kalo misalnya banyak berbicara yang baik-baik sekaligus banyak bekerja, ya nggak apa-apa juga bukan? :-D.